Rabu, 08 Februari 2012

ASUHAN NEONATUS DENGAN JEJAS dan TRAUMA PERSALINAN


Jejas lahir merupakan istilah untuk menunjukkan trauma mekanik yang dapat dihindari atau tidak dapat dihindari, serta trauma anoksia yang dialami bayi selama kelahiran dan persalinan. Beberapa macam jejas persalinan yang akan dibahas, antara lain :
1.   Caput Suksadenum

Caput suksadenum adalah pembengkakan yang edematosa atau kadang-kadang ekimotik dan difus dari jaringan lunak kulit kepala yang mengenai bagian yang telah dilahirkan selama persalinan verteks. Edema pada caput suksadenum dapat hilang pada hari pertama, sehingga tidak diperlukan terapi. Tetapi jika terjadi ekimosis yang luas, dapat diberikan indikasi fototerapi untuk kecenderungan hiperbilirubin.

Kadang-kadang caput suksadenum disertai dengan molding atau penumpangan tulang parietalis, tetapi tanda tersebut dapat hilang setelah satu minggu.

2.   Sefalhematoma

Sefalhematoma merupakan perdarahan subperiosteum. Sefalhematoma terjadi sangat lambat, sehingga tidak nampak adanya edema dan eritema pada kulit kepala. Sefalhematoma dapat sembuh dalam waktu 2 minggu hingga 3 bulan, tergantung pada ukuran perdarahannya. Pada neonatus dengan sefalhematoma tidak diperlukan pengobatan, namun perlu dilakukan fototerapi untuk mengatasi hiperbilirubinemia. Tindakan insisi dan drainase merupakan kontraindikasi karena dimungkinkan adanya risiko infeksi. Kejadian sefalhematoma dapat disertai fraktur tengkorak, koagulopati dan perdarahan intrakranial.

3.   Trauma pleksus brakialis

Jejas pada pleksus brakialis dapat menyebabkan paralisis lengan atas dengan atau tanpa paralisis lengan bawah atau tangan, atau lebih lazim paralisis dapat terjadi pada seluruh lengan. Jejas pleksus brakialis sering terjadi pada bayi makrosomik dan pada penarikan lateral dipaksakan pada kepala dan leher selama persalinan bahu pada presentasi verteks atau bila lengan diekstensikan berlebihan diatas kepala pada presentasi bokong serta adanya penarikan berlebihan pada bahu.

Trauma pleksus brakialis dapat mengakibatkan paralisis Erb-Duchenne dan paralisis Klumpke. Bentuk paralisis tersebut tergantung pada saraf servikalis yang mengalami trauma.

Pengobatan pada trauma pleksus brakialis terdiri atas imobilisasi parsial dan penempatan posisi secara tepat untuk mencegah perkembangan kontraktur.



4.   Fraktur klavikula
     
Tanda dan gejala yang tampak pada bayi yang mengalami fraktur klavikula antara lain : bayi tidak dapat menggerakkan lengan secara bebas pada sisi yang terkena, krepitasi dan ketidakteraturan tulang, kadang-kadang disertai perubahan warna pada sisi fraktur, tidak adanya refleks moro pada sisi yang terkena, adanya spasme otot sternokleidomastoideus yang disertai dengan hilangnya depresi supraklavikular pada daerah fraktur.

5.   Fraktur humerus

Pada fraktur humerus ditandai dengan tidak adanya gerakan tungkai spontan, tidak adanya reflek moro.

Penangan pada fraktur humerus dapat optimal jika dilakukan pada 2-4 minggu dengan imobilisasi tungkai yang mengalami fraktur.

 

PENYEBAB TRAUMA PERSALINAN

Trauma persalinan salah satunya terjadi akibat lamanya persalinan berlangsung, sehingga ibu merasakan sakit yang lama pula. Normalnya persa linan berjalan kurang lebih 8-10 jam mulai fase awal, pembukaan satu sampai dengan fase akhir, pembukaan sepuluh, dan tahap mengejan. Tapi karena berbagai hal, ada ibu yang harus melalui persalinan cukup lama, hingga tiga hari bahkan berminggu-minggu dari fase awal hingga fase akhir. Itu artinya, ibu akan merasakan his atau mulas lebih lama.

Kemungkinan perlamaan ini disebabkan berbagai faktor. Faktor pertama hambatan fisik, meliputi kecilnya lingkar panggul ibu sehingga bayi sulit keluar. Kedua, penebalan rahim, sehingga pembukaan berjalan sangat lambat. Ketiga, ketegangan vagina, sehingga vagina menjadi keras dan otot-otot saluran jalan rahim tidak lentur. Keempat, pembukaan terhambat karena posisi janin sungsang.

Selain dipengaruhi faktor fisik, hambatan persalinan juga dapat dipengaruhi faktor psikis, misal, akibat ibu kelewat emosional; tegang dan takut, sehingga darah dan energinya menjadi tidak kooperatif melancarkan proses persalinan, syaraf dan otot juga menegang sehingga jalan persalinan menjadi keras dan kaku.

Menurut Antony, hambatan non-fisik ini lebih banyak disebabkan ketaksiapan dan ketidakmengertian ibu akan proses persalinan, mungkin karena ini persalinan pertama. "Selain itu ada juga faktor pemicu berupa kendala yang timbul mendadak sehingga membuat persalinan semakin sulit. Misal, naiknya tensi darah ibu secara drastis, kambuhnya asma pada ibu hamil penderita asma, kambuhnya epilepsi pada ibu penderita epilepsi, atau menurunnya kesadaran ibu."
Selain karena faktor di atas, tindakan pertolongan persalinan yang diambil ahli medis juga bisa meninggalkan trauma membekas - akibat ngeri dan rasa sakit.

Misal, epsiotomi atau pengguntingan perineum (daerah antara vagina dengan anus) untuk memperluas jalan lahir, induksi (baik infus maupun per vagina), penggunaan vakum, cunam, penjahitan episiotomi, operasi Cesar dan segala prosedurnya, misal, pemberian suntikan epidural, dan berbagai komplikasi pasca-persalinan.

Semua ini, menurut Antony, lebih sering terjadi karena keadaan darurat, dimana ibu biasanya tidak siap menghadapinya lantaran belum dipersiapkan untuk itu.

MEMINIMALKAN TRAUMA PERSALINAN

Menurut Antony sebenarnya trauma persalinan bisa diminimalisasi, bahkan dihindari. Caranya dengan memperkecil keadaan darurat pada saat persalinan, yaitu, "Lakukanlah tata laksana perawatan kehamilan yang memadai. Di antarannya memeriksakan kehamilan minimal satu bulan satu kali selama hamil."

Selain itu, lanjutnya, antisipasilah berbagai potensi kendala melalui
pemeriksaan fisik ibu sebelum dan selama hamil guna mengatahui kelainan yang sering muncul, misal, hipertensi, dibitesgestasional atau jantung. Ibu juga dianjurkan mengkonsumsi makanan kaya gizi dan vitamin. Bila perlu dokter akan memberikan asupan vitamin tambahan. Jangan lupa menjaga kebugaran tubuh selama hamil dan melakukan senam hamil, setidaknya sebulan sebelum persalinan. "Agar ibu lebih tenang selama menjalani persalinan, sebaiknya ibu juga merencanakan kehamilan secara matang. Jadi hamil bukan sekedar karena ikut-ikutan, emosional atau karena tuntutan pihak lain. Dengan begitu ibu dapat menjalani kehamilan dengan santai dan lebih terbuka saat menjalani persalinan," tutur Antony.

Antony juga menyarankan agar ibu mengetahui semua informasi pertolongan persalinan yang biasa dillakukan dokter. Dengan informasi cukup ibu lebih siap dan rasa takut akan dikurangi. "Tak ada salahnya bila sejak awal ibu pun mendiskusikan tindakan yang diinginkan bila mengalami persalinan sulit dengan dokter, " jelasnya.

Hal ini, lanjut Antony, termasuk jika ibu ingin menggunakan metode pengurang rasa nyeri persalinan, baik medis (misal, Pethidin, ILA, Epudural) maupun non-medis (misal, teknik relaksasi, hipnosis, teknik pernafasan, homeopathy, akupuntur). "Saya kira, sepanjang tidak mengancam dan menimbulkan resiko persalinan, dokter terbuka untuk mendiskusikan hal-hal semacam ini," katanya.


Faktor lain yang juga dapat mengurangi adanya trauma persalinan adalah pendamping ibu selama persalinan. Banyak ibu tidak bisa melalui persalinan seorang diri. Biasanya mereka membutuhkan pendamping yang dapat mendampingi, memberi support, bahkan membantu kelancaran persalinan itu sendiri. Sebaiknya ibu menentukan siapa orangnya jauh-jauh hari sebelum persalinan agar pendamping itu pun cukup siap menjadi tim kerja Anda.

TRAUMA GEMUKNYA...
Trauma persalinan sering pula disebabkan faktor pemicu lain di luar peristiwa saat bersalin. Berikut beberapa penyabab dan cara mengatasinya.

Kegemukan
Pertambahan berat badan (BB) saat hamil (13-17 kilogram) dianjurkan, tetapi kelebihan berat badan tidak. Mengapa? Ini karena pertambahan BB yang berlebihan potensial menimbulkan resiko kehamilan dan persalinan, juga membuat ibu terganggu saat ia kesulitan menurunkan bobotnya yang overweight. Bagi ibu yang sangat peduli penampilan - apalagi dengan adanya tuntutan pasangan dan profesi - kelebihan bobot tubuh ini bisa menimbulkan trauma tersendiri, yang sampai-sampai membuatnya kapok hamil lagi.

Untuk mengatasi kegemukan setelah persalinan, ibu harus melakukan latihan yang dapat mengembalikan kekencangan otot dan mengurangi timbunan lemak, menyusui bayi secara Ekslusif, dan mematuhi anjuran diet dari dokter.

Terhambatnya Aktifitas
Ada ibu yang menyikapi kehamilan yang dijalaninya selama sembilan bulan bulan sebagai sesuatu yang alamiah dan fun, ada juga yang menganggapnya kendala, karena ibu merasa terganggu , baik hidup dan aktifitasnya. Ini terutama jika ibu memiliki target tertentu disamping punya anak, yang menuntutnya selalu tampil normal. Kehamilan dianggap dapat mengurangi profesionalisme. Apalagi bila pasangan atau tempat ibu ia bekerja tidak mendukung..

Melahirkan Bayi dengan Masalah Khusus

Jika anak pertama lahir tidak sesuai diharapkan, misal, menderita penyakit atau kelainan tertentu, adakalanya hal ini mengusik niat ibu untuk melahirkan anak kedua dan seterusnya karena kuatir hal yang sama akan menimpa anak berikutnya. Agar hal ini tidak mengganggu secara irasional, sebaiknya ibu melakukan pemeriksaan pra-kehamilan dan persiapan untuk kehamilan berikutnya dengan lebih baik, sehingga peristiwa yang tidak diharapkan tidak terulang kembali.

 

 

 

ASKEB NEO DENGAN JEJAS PERSALINAN

Trauma lahir merupakan perlakuan pada bayi baru lahir yang terjadi dalam proses persalinan atau kelahiran (IKA, Jilid I).
Luka yang terjadi pada saat melahirkan amniosentesis, transfusi, intrauterin, akibat pengambilan darah vena kulit kepala fetus, dan luka yang terjadi pada waktu melakukan resusitasi aktif tidak termasuk dalam pengertian. Perlakukan kelahiran atau trauma lahir. Pengertian perlakuaan kelahiran sendiri dapat berarti luas, yaitu sebagai trauma mekanis atau sering disebut trauma lahir dan trauma hipoksik yang disebut sebagai Asfiksia. Trauma lahir mungkin masih dapat dihindari atau dicegah, tetapi ada kalanya keadaan ini sukar untuk dicegah lagi sekalipun telah ditangani oleh seorang ahli yang terlatih.
Angka kejadian trauma lahir pada beberapa tahun terakhir ini menunjukkan kecenderungan menurun. Hal ini disebabkan banyak kemajuan dalam bidang obstetri, khususnya pertimbangan seksio sesarea atau indikasi adanya kemungkinan kesulitan melahirkan bayi. Cara kelahiran bayi sangat erat hubungannya dengan angka kejadian trauma lahir. Angka kejadian trauma lahir yang mempunyai arti secara klinis berkisar antara 2 sampai 7 per seribu kelahiran hidup. Berapa faktor risiko yang dapat menaikkan angka kejadian trauma lahir antara lain adalah makrosomia, malprensentasi, presentasi ganda, disproporsi sefala pelvik, kelahiran dengan tindakan persalinan lama, persalinan presipitatus, bayi kurang bulan, distosia bahu, dan akhirnya faktor manusia penolong persalinan. Lokasi atau tempat trauma lahir sangat erat hubungannya dengan cara lahir bayi tersebut atau phantom yang dilakukan penolong persalinan waktu melahirkan bayi. Dengan demikian cara lahir tertentu umumnya mempunyai predisposisi lokasi trauma lahir tertentu pula. Secara klinis trauma lahir dapat bersifat ringan yang akan sembuh sendiri atau bersifat laten yang dapat meninggalkan gejala sisa.

Selain trauma lahir yang disebabkan oleh faktor mekanis dikenal pula trauma lahir yang bersifat hipoksik. Pada bayi kurang bulan khususnya terdapat hubungan antara hipoksik selama proses persalinan dengan bertambahnya perdarahan per intraventrikuler dalam otak.

 

 

 

 

 

 

TRAUMA PERSALINAN

Trauma kelahiran adalah kelahiran pada bayi baru lahir yang terjadi karena trauma kelainan akibat tindakan, cara persalinan / gangguan yang diakibatkan oleh kelainan fisiologik persalinan (Sarwono Prawirohardjo, 2001 :229)

1.2    Menurut A.H. Markum dkk (1991 : 266) Etiologi :
1.2.1 Makrosomia
1.2.2 Mal presentasi (bagian terendah janin yang tidak sesuai)
1.2.3 Presentasi ganda (bagian terendah janin lebih dari 1 bagian)
1.2.4 Disproporsi sephalo pelvik (ketidak sesuaian panggul dan kepala janin)
1.2.5 Kelahiran dan tindakan (proses persalinan yang tidak spontan tapi dengan menggunakan alat)
1.2.6 Persalinan lama (persalinan yang lebih dari 24 jam)
1.2.7 Persalinan presipitatus (persalinan dimana gejala Kala I tidak dirasakan sakit dan berakhir dengan lahirnya bayi)
1.2.8 Bayi kurang bulan (bayi lahir dengan usia kehamilan 22 – 26 minggu)
1.2.9 Distosia bahu (kemacetan bahu)

1.3    Macam-macam (Dep.Kes. RI, 1997 : 28)
1.3.1 Trauma pada jaringan lunak
1.3.1.1Perlukaan Kulit
Diagnosis : Perlukaan pada bayi timbul pada persalinan dengan cunam atau vakum ekstraktor
Tindakan : Bersihkan daerah luka
Beri antiseptik lokal

1.3.1.2Kaput Suksedaneum
Pengertian : Pembengkakan pada suatu tempat dan kepala / adanya timbunan getah bening bawah lapisan apenorose di luar periostium.

Etiologi
Karena adanya tekanan pada kepala oleh janin lahir baik pada :
Partus lama, Persalinan dengan vacum ekstraksi
Kaput suksedanum terjadi bila :
Ketuban sudah pecah, His cukup kuat, makin kuat his, makin besar caput suksedaneum, Anak hidup, tidak terjadi pada anak yang mati, Selalu terjadi pada bagian yang terendah dari kepala.
Tanda / gejala :
Adanya odem di kepala berwarna kemerahan, Pada perabaan terasa lembut dan lunak, Odema melampaui sela-sela tengkorak. Batas tidak jelas, Menghilang 2-3 hari tanpa pengobatan.

Patofisiologi :
Persalinan dengan vacum forcep, Partus lama , Tekanan daerah kepala sub periostal, Kerusakan jaringan sub periostal, Kerusakan integritas jaringan
Nutrisi, Injury, Eliminasi alvi
Tindakan : Kelainan ini tidak memerlukan pengobatan khusus, biasanya menghilang dalam beberapa hari setelah lahir.
1.3.1.3Sephal hematoma
Pengertian : Pembengkakan pada kepala karena adanya penumpukan darah yang disebabkan oleh perdarahan subperiostium.

Etiologi
Tekanan jalan lahir terlalu lama pada kepala waktu persalinan, Moullage terlalu keras, selaput tengkorak robek
Partus dengan tindakan :
Forcep, Vacum ekstraksi, Frekuensi 0,5 – 2% dari kelahiran hidup
Tanda / gejala :
Kepala bengkak dan merah
Batas jelas
Pada perabaan mula-mula lunak, lambat laun keras.
Menghilang pada waktu beberapa minggu.
Patofisiologi :
Partus lama , Moulage terlalu keras, Persalinan dengan vacum dan forcep, Tekanan daerah kepala sub periostal, Perdarahan, Kerusakan jaringan sub periostal, Kerusakan integritas jaringan,
Nutrisi, Injury, Eliminasi alvi
Tindakan : Bila tidak ada gejala lanjut, kelainan ini tidak memerlukan tindakan khusus, karena akan menghilang dengan sendirnya setelah 3-4 bulan.

1.3.1.4Trauma Muskulus Sternokleidomastoideus
Diagnosis : Minggu pertama terdapat tumor berdiameter 1,2 cm pada muskulus sternokleidomastoideus. Berbatas tegas, sukar digerakkan dari dasarnya. Kepala serta leher bayi cenderung miring ke arah otot yang sakit. Akan terjadi penyembuhan sendiri, tetapi otot menjadi lebih pendek dari normal. Tumor ini timbul akibat perlukaan yang menimbulkan hematoma ketika melahirkan kepala bayi pada persalinan letak sungsang.
Tindakan : Lakukan fisioterapi dengan menggerakkan kepala bayi ke kanan dan ke kiri setiap hari 5-10 kali.
Beri antiseptik lokal


1.3.2Trauma pada Susunan Saraf
1.3.2.1Paralisis Pleksus Brakialis
Kelainan ini dibedakan atas :
Paralisis Duchenne – Erb
Paralisis Klumpke
Etiologi : Akibat tarikan kuat di daerah leher saat bayi lahir sehingga terjadi kerusakan pada pleksus brakialis.
Diagnosis : - Paralisis Duchene – Erb
Terjadi kelemahan pada lengan untuk fleksi, abduksi serta memutar keluar disertai hilangnya refleks biseps dan moro. Lengan pada posisi aduksi dan memutar ke dalam dengan lengan bawah proslasi dan telapak tangan ke arah belakang
Paralisis Klumpke
Timbulnya kelemahan pada otot fleksor pergelangan sehingga bayi kehilangan refleks mengenal. Paralisis ini jarang terjadi.
Tindakan : Rujuk ke rumah sakit untuk fisioterapi

1.3.2.2Paralisis Nervus Fasialis
Diagnosis : - Timbul gejala separuh muka bayi tidka dapat digerakkan. Kelainan ini terjadi akibat tekanan perifer pada Nervus fasialis saat lahir
Sering terjadi pada persalinan dengan ekstraksi cuman
Tindakan : - Bila kelainan pada saraf VIII hanya berupa edema. Biasanya sembuh dalam beberapa hari tanpa tindakan khusus. Jika 1 minggu tidak ada perubahan, segera rujuk / konsultasi ke rumah sakit

1.3.2.3Paralisis Nervus Frenikus
Etiologi : Kelahiran sungsang  regangan pada pleksus brakialis yang menyebabkan regangan pada Nervus Frenikus karena jalannya bersamaan
Tindakan : - Terjadi paralisis pada Nervus Frenikus yang bersifat unilateral atau bilateral terjadi paralisis diafragma. Paralisis nervus frenikus biasanya menyertai paralisis duchene – Erb dan diafragma yang terkena biasanya diafragma kanan sehingga bila ada paralisis Duchene – Erb perhatikan pernapasan bayi.
Pada paralisis berat, bayi dapat memperlihatkan sindrome gangguan pernapasan dengan dispne dan sianosis.
Tindakan : Rujuk ke rumah sakit

1.3.3Perdarahan Intrakranial
Diagnosis : - Terdapat gejala asfiksia yang sukar diatasi
Setengah sadar, merintih
Sesak napas
Pucat
Muntah
Ada kalanya dengan kejang
Gejala neurologi yang timbul akan bervariasi, tergantung pada tempat dan luasnya kerusakan jaringan otak yang diakibatkan oleh perdarahan tersebut.
Tindakan : - Vitamin K injeksi 12 mg/im untuk bayi aterm dan 1 mg untuk bayi preterm
Hindari manipulasi
Rujuk ke rumah sakit

1.3.4Patah Tulang
1.3.4.1Fraktura Klavikula
Etiologi : - Bayi besar
Persalinan letak sungsang dengan lengan menumbuk ke atas
Sering timbul kesulitan dalam melahirkan bahu
Diagnosis : - Timbul kelemahan pada lengan sisi yang terkena disertai menghilangnya refleks moro pada sisi tersebut
Bisa dengan palpasi dan jika perlu dengan potret rontgen
Tindakan : Imobilisasi dengan menggunakan “Ransel Verband”

1.3.4.2Fraktura Humeri
Etiologi : - Kesalahan teknis dalam melahirkan lengan pada persalinan kepala
Letak sungsang denganlengan menumbung ke atas
Diagnosis : - Lengan pada sisi terkena tidak dapat digerakkan disertai menghilangnya reflek moro
Tindakan : - Imobilisasi lengan selama 2,4 minggu
Rujuk ke rumah sakit

1.3.4.3Fraktura Femoris
Etiologi : - Kesalahan teknis dalam persalinan letak sungsang
Kelainan ini jarang terjadi
Diagnosis : - Imobilisasi
Rujuk ke rumah sakit

0 komentar:

Poskan Komentar

Template by:

Free Blog Templates