Rabu, 08 Februari 2012

GANGGUAN NAPAS PADA BBL (BAYI BARU LAHIR)


A.    Definisi
Gangguan napas pada bayi baru lahir (BBL) adalah keadaan bayi yang sebelumnya normal atau bayi dengan asfiksia yang sudah dilakukan resusitasi dan berhasil, tetapi beberapa saat kemudian mengalami gangguan nafas.

B.     Gejala & Tanda
Gangguan napas merupakan sindroma klinis yang terdiri dari kumpulan gejala sebagai berikut:
ü  Frekuensi napas bayi >60 kali permenit atau frekuensi napas bayi <40 kali permenit dan mungkin menunjukkan satu atau lebih tanda tambahan gangguan napas sebagai berikut:
·         Bayi dengan sianosis sentral (biru pada lidah dan bibir)
·         Tarikan dinding dada
·         Merintih
·         Bayi apnea (napas berhenti >20 detik).

C.     Anamnesis
·         Waktu timbulnya gangguan napas
·         Usia kehamilan
·         Pengobatan steroid antenatal
·         Factor predisposisi: ketuban pecah dini (KPD), demam pada ibu sebelum  persalinan
·         Riwayat asfiksia dan persalinan dengan tindakan
·         Riwayat aspirasi

D.    Klasifikasi
Frekuensi Napas

Gejala Tambahan Gangguan Napas
Klasifikasi
>60 x/menit


Atau >90 x/menit


Atau <30 x/menit
DENGAN


DENGAN


DENGAN atau TANPA

Sianosis sentral dan tarikan dinding dada atau merintih saat ekspirasi
Sianosis sentral dan tarikan dinding dada atau merintih saat ekspirasi
Gejala lain dari gangguan napas
Gangguan napas berat



60-90 x/menit



Atau >90 x/menit
DENGAN

tetapi TANPA
TANPA
Tarikan dinding dada atau merintih saat ekspirasi

Sianosis sentral
Tarikan dinding dada atau merintih saat ekspirasi atau sianosis sentral
Gangguan napas sedang
60-90 x/menit

TANPA
Tarikan dinding dada atau merintih saat ekspirasi atau sianosis sentral
Gangguan napas ringan
60-90 x/menit
DENGAN
tetapi
TANPA
Sianosis sentral
Tarikan dinding dada atau merintih
Kelainan jantung kongenital

E.     Penanganan Di Masyarakat (Manajemen Umum)
*      Pasang jalur infuse intravena, sesuai dengan kondisi bayi, yang paling sering dan bila bayi tidak dalam keadaan dehidrasi, berikan infuse Dextrose 10%
-          Pantau selalu TTV
-          Jaga potensi jalur napas
-          Berikan O2 (2-3 liter/menit dengan kateter langsung)
*      Jika bayi mengalami apnea:
-          Lakukan tindakan resusitasi sesuai tahap yang diperlukan
-          Lakukan penilaian lanjut
*      Bila terjadi kejang, hentikan kejang
*      Segera periksa kadar glukosa darah (bila fasilitas tersedia)
*      Pemberian nutrisi adekuat (ASI)

F.      Penanganan Di Rumah Sakit (Manajemen Lanjut/Spesifik)
1.      Gangguan Napas Berat
·         Tentukan pemberian O2 dengan kecepatan aliran sedang (antara rendah dan tinggi, lihat terapi oksigen)
·         Bila bayi menunjukkan tanda pemburukan atau terdapat sianosis sentral, naikkan pemberian O2 pada kecepatan aliran tinggi
·         Jika gangguan napas bayi semakin berat dan sianosis sentral menetap walaupun diberikan O2 100%, berikan ventilator mekanik
·         Jika gangguan napas masih menetap setelah 2 jam. Pasang pipa lambung untuk mengosongkan cairan lambung dan udara
·         Nilai kondisi bayi 4 kali setiap hari, apakah ada tanda perbaikan
·         Jika bayi mulai menunjukkan tanda perbaikan (frekuensi napas menurun, tarikan dinding dada berkurang, warna kulit membaik)
-          Kurangi pemberian O2 secara bertahap
-          Mulailah pemberian ASI peras melalui pipa lambung
-          Bila pemberian O2 tak diperlukan lagi, bayi mulai dilatih menyusu. Bila bayi tak bisa menyusu, berikan ASI peras dengan menggunakan salah satu alternative cara pemberian minum
Pantau dan catat setiap 3 jam mengenai:
-          Frekuensi napas
-          Adanya tarikan dinding dada atau suara merintih saat ekspirasi
-          Episode apnea
ü  Periksa kadar glukosa darah sekali sehari setengah kebutuhan minum dapat dipenuhi secara oral
ü  Amati bayi selama 24 jam setelah pemberian antibiotika dihentikan. Jika bayi tampak kemerahan tanpa terapi O2 selama 3 hari, minum baik dan tidak ada masalah lain yang memerlukan perawatan di RS, bayi dapat dipulangkan.

2.      Gangguan Napas Sedang
·         Lanjutkan pemberian O2 dengan kecepatan aliran sedang
·         Bayi jangan diberi minum
·         Jika ada tanda berikut, ambil sampel darah untuk kultur dan berikan antibiotic (ampisillin dan gentamisin) untuk terapi kemungkinan besar sepsis
-          Suhu aksiler <34oC atau >39oC
-          Air ketuban bercampur mekonium
-          Riwayat infeksi intrauterine, demam curiga infeksi berat atau ketuban pecah dini (>18 jam)
·         Bila suhu aksiler 34-36,5oC atau 37,5-39oC tangani untuk masalah suhu abnormal dan nilai ulang setelah 2 jam
-          Bila suhu masih belum stabil atau gangguan napas belum ada perbaikan, ambil sampel darah, dan berikan antibiotika untuk terapi kemungkinan besar sepsis
-          Jika suhu normal, teruskan amati bayi. Apabila suhu kembali abnormal ulangi tahapan di atas
·         Bila tidak ada tanda-tanda kearah sepsis, nilai kembali bayi setelah 2 jam. Apabila bayi tidak menunjukkan perbaikan atau tanda-tanda perburukan setelah 2 jam, terapi untuk kemungkinan besar sepsis
·         Bila bayi mulai menunjukkan tanda-tanda perbaikan (frekuensi napas menurun, tarikan dinding dada berkurang atau suara merintih berkurang):
-          Kurangi terapi O2 secara bertahap
-          Pasang pipa lambung, berikan ASI peras setiap 2 jam
-          Bila pemberian O2 tak diperlukan lagi, bayi mulai dilatih menyusu. Bila bayi tak bisa menyusu, berikan ASI peras dengan menggunakan salah satu alternative cara pemberian minum
·         Amati bayi selama 24 jam, setelah pemberian antibiotika dihentikan. Jika bayi kembali tampak kemerahan tanpa pemberian O2 selama 3 hari, minum baik dan tidak ada alasan bayi tetap tinggaldi RS, bayi dapat dipulangkan.

3.      Gangguan Napas Ringan
·         Bila dalam pengamatan gangguan napas memburuk atau timbul gejala sepsis lainnya, terapi untuk kemungkinan besar sepsis dan tangani gangguan napas sedang atau berat seperti tersebut diatas
·         Berikan ASI bila mampu mengisap. Bila tidak, berikan ASI peras dengan menggunakan salah satu cara alternative pemberian minum
·         Kurangi pemberian Osecara bertahap, bila ada perbaikan gangguan napas, hentikan pemberian O2. Jika frekuensi napas antara 30-60 x/menit
·         Amati bayi selama 24 jam berikutnya, jika frekuensi napas menetap antara 30-60 x/menit, tidak ada tanda sepsis, dan tidak ada masalah lain yang memerlukan perawatan, bayi dapat dipulangkan

4.      Penanganan Kelainan Jantung Kongenital
·         Berikan O2 pada kecepatan aliran maksimal
·         Berikan ASI Eksklusif. Bila tidak dapat, berikan ASI peras dengan memakai salah satu alternative pemberian
·         Berikan terapi definitive.

0 komentar:

Poskan Komentar

Template by:

Free Blog Templates