Rabu, 08 Februari 2012

PAROTITIS EPIDEMIKA (GONDONG)


1.    Pengertian
a.     Parotitis epidemika adalah infeksi akut, menular dengan gejala khas yaitu pembesaran kelenjar ludah terutama kelenjar parotis.
(Oswari, 2006: 216)
b.    Parotis epidemika adalah penyakit virus menyeluruh, akut yang kelenjar ludahnya membesar, nyeri terutama kelenjar parotis, merupakan tanda-tanda yang biasa ada.
c.     Gondongan (mumps/parotitis epidemika) adalah infeksi virus menular mengakibatkan pembengkakan unilateral (satu sisi) atau bilateral (dua sisi) pada kelenjar liur disertai nyeri.
d.    Parotitis epidemika adalah penyakit akut dan menular yang disebabkan virus yang menyerang kelenjar air liur di mulut, terutama kelenjar parotis yang terletak pada tiap-tiap sisi muka, tepat di bawah dan di depan telinga.
Kesimpulannya, parotitis epidemika adalah penyakit infeksi akut dan menular yang diakibatkan oleh virus yang menyerang kelenjar parotis di mulut yang menyebabkan pembengkakan dan nyeri.
2.    Etiologi
Disebabkan oleh virus “mumps” yaitu paramyxovirus. Virus itu sudah berada dalam air ludah 1-6 hari sebelum pipi anak membengkak. Biasanya bila salah satu anak terkena gondongan maka anak-anak lain di daerah itu terkena juga karena virus itu sangat menular.
(Ngastiyah, 2005: 355)

3.    Patofisiologi
Virus masuk tubuh via hidung maupun mulut. Proliferasi terjadi di parotis atau epitel traktus respiratorius kemudian terjadi viremia (menyebar melalui darah) dan selanjutnya virus berdiam di jaringan kelenjar atau saraf dan yang paling sering terkena adalah kelenjar parotis. Pada manusia, selama fase akut virus mumps dapat diisoler dari saliva, darah, air seni dan liquor. Bila testis terkena infeksi maka terdapat perdarahan kecil dan nekrosis sel epitel tubuli seminiferus. Pada pancreas kadang terdapat degenerasi dan nekrosis jaringan.

4.    Manifestasi Klinis
Masa tunas 14-24 hari dimulai dengan stadium prodormal lamanya 1-2 hari dengan gejala demam, anoreksia, sakit kepala, muntah dan nyeri otot, suhu tubuh biasanya naik sampai 38,5°-39.5°C kemudian timbul pembengakan kelenjar parotis yang mula-mula unilateral kemudian dapat bilateral (tidak selalu). Pembengkakan tersebut terasa nyeri, baik spontan maupun perabaan terlebih bila pasien makan dan minum yang terasa asam. Ini merupakan gejala khas untuk penyakit parotitis epidemika.
Tanda dan gejala :
a.     Nyeri pada salah satu atau kedua kelenjar liur disertai bengkak.
b.    Demam ringan, nyeri dada otot leher dan rasa lemas, sakit kepala.
c.     Nafsu makan berkurang, merasa tidak enak badan.
d.    Puncak bengkak pada 1-3 hari dan berakhir pada 3-7 hari.
e.     Sudut mandibula tidak jelas.
f.      Posisi daun telinga meningkat.
g.     Makanan dengan rasa asam menyebabkan rasa nyeri pada kelenjar liur.
Gejala lain yang mungkin ditemukan:
a.     Nyeri testis
b.    Benjolan di testis
c.     Pembengkakan scrotum (kantong zakar)

5.    Insiden dan Epidemiologi
Penyakit ini tersebar di seluruh dunia secara endemic dan epidemic. Penyebaran virus terjadi dengan kontak langsung, percikan ludah, bahan muntah dan mungkin dengan urine. Virus dapat di isolasi dari faring 2 hari sebelum sampai 6 hari setelah terjadi pembesaran parotis. Virus dapat pula diisolasi dari faring. Virus dapat ditemukan dalam urine dari hari pertama sampai hari ke-14 setelah terjadi pembesaran kelenjar. Baik infeksi klinis maupun subklinis menyebabkan imunitas seumur hidup. Bayi sampai umur 6-8 bulan tidak dapat terjangkit penyakit ini karena masih dilindungi oleh antibody yang didapatkan dari ibunya secara transplasental.

6.    Diagnosis Banding
Diagnosis banding ini mencakup parotitis sebab lain. Seperti pada infeksi virus termasuk infeksi virus imuno defisiensi manusia (HIV), influenza, parainfluenza 1 dan 3, sitomegalovirus atau keadaan koksavirus yang jarang dan infeksi koriomeningitis limfositik. Infeksi-infeksi ini dapat dibedakan dengan uji laboratorium spesifik, parotitis suparatif, parotitis berulang, kalkulus salivarius, limfadenitis, preaurikuler/servikal anterior, limfosarkoma, tumor parotis lain yang jarang, dan orkitis.

7.    Diagnosis
Diagnosis ditegakkan berdasarkan gejala dan hasil pemeriksaan fisik yang menunjukkan adanya pembengkakan di daerah temporomandibuler (antara telinga dan hidung).

8.             Prognosis
Pada umumnya bagus sekali karena jarang ditemukan kematian.

9.    Penatalaksanaan
a.     Istirahatkan penderita selama masih demam dan pembengkakan masih ada karena terdapat gangguan menelan atau mengunyah. Sebaiknya diberikan makanan lunak dan hindari makanan dan minuman yang asam karena dapat menimbulkan nyeri.
b.    Daerah pipi atau leher bisa juga dikompres secara bergantian panas dan dingin.
c.     Obat pereda nyeri (asetaminofen dan ibuproven) bisa digunakan untuk mengatasi sakit kepala dan tidak enak badan. Aspirin tidak boleh diberikan pada anak-anak karena memiliki risiko terjadinya Syndroma Reye. Kortikosteroid diberikan selama 2-4 hari dan globulin gama diperkirakan apabila terdapat arkitis.
d.    Jika terdapat pembengkakan testis sebaiknya penderita menjalani tirah baring. Untuk mengurangi nyeri bisa dikompres es batu. Jika terjadi mual dan muntah akibat pancreatitis bisa diberikan cairan melalui infuse.
10.        Perawatan
          Pasien Parotitis Epidemika tidak dirawat di Rumah Sakit kecuali jika ada komplikasi yang memerlukan pengobatan khusus. Yang perlu disampaikan kepada orang tua untuk merawat anaknya di rumah adalah kesukaran waktu makan, gangguan rasa aman dan nyaman, risiko terjadi komplikasi.
a.     Kesukaran makan
     Pasien yang menderita parotitis merasakan sukar untuk membuka mulutnya dan sakit mengunyah di samping adanya anoreksia. Akibatnya anak tidak mau makan.
     Makanan dapat diberikan dalam bentuk lunak/cair tetapi cukup kaloti dan zat gizinya. Harus sering diberi minum; sedikit-sedikit tapi sering karena kelenjar ludah tidak berfungsi makan akan menyebabkan selaput lender kurang basah dan anak akan susah menelan ludahnya. Biasanya jika bengkak menyusut anak akan makan lunak biasa.
b.    Gangguan rasa aman dan nyaman
     Gangguan rasa aman dan nyaman yang dirasakan oleh pasien karena demam yang tinggi, sakit membuka mulut/mengunyah, sakit kepala, nyeri otot terutama pada otot kunyah akan sakit sekalipada saat sedang bengkak besar sehingga anak yang kecil akan selalu menangis pada waktu disuruh membuka mulutnya.
(Ngastiyah, 2005: 356)
11.        Komplikasi
a.     Orkhitis
b.    Ovoritis
c.     Meningoensefalitis
d.    Pancreatitis
e.     Peradangan ginjal
f.      Peradangan sendi

12.        Pencegahan
          Pencegahan penyakit ini dapat dilakukan secara aktif dengan pemberian vaksin parotitis merupakan bagian imunisasi rutin bagi kanak-kanak. Vaksin Mumps biasanya terdapat dalam bentuk kombinasi dengan Campak dan Rubella (MMR) yang disuntikkan melalui otot paha atau lengan atas. Vaksinasi memberikan perlindungan yang bagus sekali paling sedikit 4 tahun.
                                                                            

0 komentar:

Poskan Komentar

Template by:

Free Blog Templates